DEEPER (Roderick Gordon & Brian Williams)

DEEPER

Hari ini gw MASIH baca Deeper. Itu, novel  lanjutannya Tunnels. Yang nulis Roderick Gordon, yang ilustrasi Brian Williams. Kenapa gw bacanya lama? FYI, udah lima hari.

Mungkin karena nggak terlalu suka ya. Bisa dibilang bosan sih. Walaupun Deeper tidak lebih membosankan dari Tunnels, gw tidak menyelesaikannya dalam sekali duduk seperti novel-novel lainnya. Namun, gw seneng karena ada plot twist yang lumayan banyak di Deeper. Ada banyak cerita juga dari masing-masing karakter. Mulai dari Dr.Burrows yang udah jauh mengarungi Deeps berbekal peta dari Coprolite, Sarah yang galau badai ditemani Bartleby, Will ditemani Chester dan Cal yang bertemu pemberontak, sampai Mrs. Burrows yang terkena wabah aneh.

Jadi banyak komentar-komentar di halaman depan buku ini yang bilang inilah “the next Harry Potter” karena editornya sama. Yah, menurut subjektif gw sih, jauh dari Harry Potter. Sekali lagi ini subjektif ya. Gw nggak terlalu menikmati ceritanya. Mungkin karena karakter-karakter protagonisnya “lemah”. Hari-hari cuma kabur dari kejaran Styx. Beda dibanding Harry Potter yang heroik dan punya teman-teman yang hebat, professor-professor imba, dan ceritanya magical banget. Jujur gw lebih suka yang gitu sih. Haha

Satu hal hebat yang gw suka dari serial Tunnels ini adalah penggambaran perasaan karakternya bisa membuat gw ngeri. Indah lah. Sering banget kan mereka menemui saat-saat di ujung kematian. Dan itu sangat mengerikan. Beneran, gw nggak bohong. Apalagi bacanya pas malem-malem. Gw merasa hidup gw yang gw jalani sekarang sangat sepele dan hambar.

Jadi mungkin segitu saja review buku yang sedang gw baca. Sangat subjektif dan tidak penting. Haha

 

THE RING OF SOLOMON (Jonathan Stroud)

The Ring of Solomon

Bartimaeus dari Uruk. Jin mulia yang membangun kastil-kastil dan benteng-benteng tinggi di bawah perintah penyihir-penyihir hebat –karena penyihir-penyihir tidak hebat yang dengan bodoh memanggil Bartimaeus akan langsung lenyap dari dunia ini, kau tahu kenapa.

“Kau dengar itu?”

“Apa?”

“Suara orang-orang tidak bersorak.”

Aku ketawa hebat pas bagian itu. LOL. Tapi itu di buku triloginya. Buku yang kubahas ini mungkin semacam prekuelnya, saat Bartimaeus –yang sebenarnya jin yang licik dan sembarangan, tapi punya sedikit hati nurani—dipanggil di Jerussalem saat Raja Solomon bersama Cincinnya berkuasa, berabad-abad sebelum dia bertemu Nathaniel di London.

Tidak ada Nathaniel di buku ini –yang sebenarnya sangat disayangkan—tapi petualangan—atau perbudakan, lebih tepatnya—Bartimaeus tetap epik.

Pertama-tama bersama Faquarl: dengan mengejutkan ternyata cukup bersahabat dengan Barty jika di bawah satu majikan. Lalu, bersama Asmira menyusun rencana membunuh Raja Solomon, hingga menemui akhir yang sempurna, menurut pengamatan subjektifku yang awam.

Seperti yang sudah biasa terjadi di buku-buku Bartimaeus, di buku ini pun terjadi kebodohan di mana-mana. Kekonyolan luar biasa. Kebanyakan dilakukan manusia, tapi Barty juga tidak luput dari kebodohan fatal yang menuntunnya menjadi tokoh utama sebenarnya dalam cerita ini.

Di buku ini Bartimaeus memakai samaran pemuda Sumeria yang tampan (favoritku), burung phoenix, kucing Persia (kalau tidak salah ingat), kuda nil gendut, imp menjijikkan, dan beberapa wujud spirit lain yang diperlukan. Sangat layak untuk di baca, dan bahkan semua yang kuceritakan di atas tidak menggambarkan kehebohan sebenarnya di dalam buku ini.

Selamat membaca!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s